<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kawruhjawi</title>
	<atom:link href="http://kawruhjawi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kawruhjawi.wordpress.com</link>
	<description>saking jawa kanthi tresna</description>
	<pubDate>Fri, 30 May 2008 03:09:21 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>id</language>
			<item>
		<title>ISLAM DALAM FILSAFAT MISTIK JAWA: ANALISIS DEWA RUCI “SERAT CABOLEK” Dr.Abdul Hadi W. M.</title>
		<link>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/05/09/islam-dalam-filsafat-mistik-jawa-analisis-dewa-ruci-%e2%80%9cserat-cabolek%e2%80%9d-drabdul-hadi-w-m/</link>
		<comments>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/05/09/islam-dalam-filsafat-mistik-jawa-analisis-dewa-ruci-%e2%80%9cserat-cabolek%e2%80%9d-drabdul-hadi-w-m/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 05:40:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurussadad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[budaya jawa]]></category>

		<category><![CDATA[mitologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawruhjawi.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Niki sakbeneripun komen ingkang masuk ten blog niki&#8230; saking mas Ahmad Samatho namung kedawan, sak meniko kula dadeaken postingan.

ISLAM DALAM FILSAFAT MISTIK JAWA:
ANALISIS DEWA RUCI “SERAT CABOLEK”
Dr.Abdul Hadi W. M.
Khazanah kepustakaan Jawa kaya dengan karangan-karangan tentang filsafat mistik yang lazim disebut suluk. Pada umumnya suluk disampaikan melalui kisah perumpamaan atau alegori, dan ditulis dalam bentuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Niki sakbeneripun komen ingkang masuk ten <a href="http://kawruhjawi.wordpress.com">blog niki</a>&#8230; saking mas <a href="http://www.ahmadsamantho.wordpress.com/">Ahmad Samatho</a> namung kedawan, sak meniko kula dadeaken postingan.</p>
<p><span id="more-44"></span></p>
<p>ISLAM DALAM FILSAFAT MISTIK JAWA:<br />
ANALISIS DEWA RUCI “SERAT CABOLEK”<br />
Dr.Abdul Hadi W. M.</p>
<p>Khazanah kepustakaan Jawa kaya dengan karangan-karangan tentang filsafat mistik yang lazim disebut suluk. Pada umumnya suluk disampaikan melalui kisah perumpamaan atau alegori, dan ditulis dalam bentuk puisi atau tembang macapat gaya Mataram (Koentjaraningrat 1984:316), tetapi tidak jarang ditulis dalam bentuk gancaran atau prosa (Edi Sedyawati 2001:300). Sebagai alegori, suluk-suluk itu kaya dengan ungkapan-ungkapan simbolik dan simbol atau image-image simbolik. Karena itu untuk memahaminya diperlukan metode penafsiran atau pemahaman yang sesuai.<br />
Kisah Dewa Ruci adalah salah suluk yang popular di Jawa dan sering dipergelarkan sebagai lakon wayang kulit. Keragaman versinya menunjukkan luasnya penyebaran kisah ini, begitu pula dengan banyaknya naskah yang memuat teks kisah ini di berbagai museum dalam dan luar negeri (PigeAUD 1967:83-7; Behrend 1990:499-544). Sejak lama cukup banyak sarjana sastra Jawa telah menelitinya, berdasar pertimbangan bahwa suluk ini merupakan representasi terbaik dari wacana mistisisme Jawa. Di dalamnya filsafat hidup Jawa yang didasarkan pada bentuk-bentuk spiritualitas atau mistisisme yang sinkretik tergambar dengan jelasnya.<br />
Versi yang terkenal gubahan Raden Ngabehi Yasadipura I, pujangga Surakarta yang hidup pada masa pemerintahan Pakububuwana II (1726-1749 M) dan Pakubuwana III (1749-1788 M). Ketika karangannya itu ditulis kraton Surakarta baru saja pulih dari krisis akibat pemberontakan internal, namun campur tangan VOC yang semakin jauh dalam politik di pusat kekuasaan Jawa membayangi gelapnya kehidupan social, ekonomi dan budaya. Ancaman disintegrasi sudah lama tampak. Ini diperparah lagi dengan ketegangan di pesisir sebagai akibat dari pertikaian teologis antara pembela ortodoksi Islam dan kaum heterodoks. Ketegangan ini berpengaruh dalam kehidupan politik dan keagamaan di pedaman, tempat pusat kekuasaan berad (Ricklefs 1993:203-12).<br />
Krisis politik ini tentu saja sangat berpengaruh bagi perkembangan kebudayaan. Masyarakat Jawa mulai merasakan kehilangan orientasi dan krisis identitas mulai tampak dalam pola hidup dan perkembangan kesenian. Untuk memulihkan kondisi budaya yang parah itu, sebuah gerakan semacam renaissance (kebangkitan kembali) budaya diperlukan. Ini mulai dirasakan pada zaman pemerintahan Pakubuwono II. Renaissance itu dimulai dengan menyadur dan menggubah kembali karya-karya Jawa Kuna, dan juga teks-teks Melayu Islam. Teks-teks Jawa Kuna dan Melayu Islam yang telah digubah kembali itu berperan penting sebagai landasan untuk merumuskan kembali filsafat hidup dan kebudayaan Jawa. Yasadipura I menulis suluknya dalam rangka renaissance kebudayaan dan kesusastraan Jawa (Pigeaud I 1967:160-171; Edi Sedyawati 2001:321). Dalam periode inilah sinthesa kebudayaan Jawa dan Islam, yang diwakili tasawuf atau sufisme, mendapat bentuknya yang definitif. Sinthesa itu tercermin sepenuhnya dalam kisah Dewa Ruci.<br />
Karena itu tidak mengherankan jika suluk ini termasuk teks mistik Jawa yang paling banyak mendapat perhatian dari para sarjana untuk diteliti dan dikaji. Di antara kajian yang pernah dilakukan dan dianggap penting ialah kajian Zoetmulder (1935), Poerbatjaraka (1940), Wediondiningrat (1940), Siswoharsojo (1953), Seno Sastromidjojo (1962), Anne Wind (1956), Johns (1957), dan Soebardi (1975). Selama tiga dasawrsa setelah kajian Soebardi, dapat dikatakan tidak ada kajian yang mendalam, bahkan hanya mengulang kajian terdahulu. Padahal masih banyak yang belum diteliti dari suluk ini, terutama yang berkenaan dengan tasawuf atau mistisisme Islam, yang merupakan aspek dan unsur penting dari suluk sinthesis ini. Dalam kajian yang telah disebutkan unsure ini hanya dibicarakan sambil lalu dan dianggap seakan hanya merupakan unsure atau aspek sampingan belaka.<br />
Berdasarkan kenyataan inilah, penelitian ini ditumpukan pada unsur-unsur tasawuf yang terdapat dalam suluk ini. Khususnya pengaruh paham monisme dari ontologi atau filsafat wujud Ibn `Arabi yang disebut sebagai paham kesatuan transenden wujud (wahdat al-wujud). Unsur lain dalam DR yang berkaitan dengan tasawuf ialah uraian tentang hawa nafsu (nafs) dan hati (qalb) serta keadaan-keadaan yang dialaminya pada saat seseorang menempuh jalan mistik (suluk). Unsur ini termasuk ke dalam bidang psikologi sufi, yang terutama sekali dibahas oleh Imam al-Ghazali yang pemikiran tasawufnya sangat berpengaruh di Indonesia. Sebagaimana dalam alegori-alegori mistik yang lain, konsep-konsep tasawuf yang dibahas dalam teks itu dikemas dalam symbol-simbol lokal. Ini juga akan mendapat perhatian dalam penelitian ini.<br />
2. Tujuan Penelitian<br />
Tujuan penelitian ini ialah: Pertama, menerangkan bagian-bagian dari teks Dewa Ruci yang bersesuaian dengan ajaran Ibn `Arabi tentang wujud, khususnya seperti terlihat pada penggunaan konsep-konsep kunci dan simbol-simbol estetik sastranya; Kedua, menerangkan hubungan DR dengan psikologi sufi yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali; Ketiga, menjelaskan keberhasilan penulisnya dalam memadukan filsafat mistik Jawa dan Islam dalam sebuah karangan sastra.<br />
3. Data Teks Yang Diteliti<br />
Teks-teks yang dijadikan bahan penelitian ialah teks-teks Serat Cabolek yang tidak jauh berbeda salinannya.<br />
a. Teks dalam naskah Perpustakaan Museum Leiden , nomor Cod. Or.<br />
1795. Didaftar dalam katalog Vreede CCXXVII (Vol. II, hal. 314 – 5). Tembang macapat yang digunakan dalam awal suluk ialah Dandanggula.<br />
b. Teks Serat Cebolek cetakan Van Dorp, 1887. Dalam katalog Vreede (II,<br />
hal. 30) dikemukakan bahwa teks salinan dalam tulisan Latin ini disalin dari teks tulisan Jawa dan diterbitkan oleh penerbit yang sama dengan edisi 1887, yaitu Van Dorp &amp; Co, Semarang. Edisi ini dimulai dengan tembang Dandanggula seperti berikut, “Serat Cabolek, anyariosaken ing nalika keraton Kartasura, panjengenganipun Kanjeng Susuhunan Sumare Nglaweyan. Ing waktu mas Ketib Anem Kudus paben kaliyan Haji Ahmad Mutamakin dusun Cabolek bawah nagari Tuban, bab prakawis ngelmu Taukid…”.<br />
c. Teks Serat Cabolek suntingan Soebardi (1975) dari beberapa naskah<br />
Koleksi Museum Nasional Jakarta (sekarang Perpustakaan Nasional Jakarta) yang juga diawali dengan tembang Dandanggula, berbunyi: “Wuryaning sarkara manulad sri, pinanduk ing reh angkara cipta, karti sampeka panjro jujur tyaas katelanjur. Pangajarin pakarti kontit, tan tatal tinatula, jataling kalbu, kombul Kabul ing istijrat…” (Soebardi 1975:66).<br />
d. Syair-syair Hamzah Fansuri yang dijadikan bahan perbandingan dalam penelitian ini didasarkan atas teks dalam naskah Melayu abad ke-18 yang terdapat dalam koleksi Perpustakaan Museum Jakarta (MS Jak. Mal. No. 83). Transliterasinya lihat Abdul Hadi W. M. (2002:351-412).<br />
4. Teori<br />
Teori yang digunakan adalah perpaduan Teori Arketipal Jung dan Teori `Alam al-Mithal Ibn `Arabi. Menurut Jung, sejak dulu hingga kini manusia terdiri dari tipe-tipe tertentu dan tipe-tipe itu terbentuk disebabkan pengalaman bersama di masa lampau. Tipe-tipe itu muncul dari sumbernya yang disebut collective consciousness atau ketaksadaran bersama (Jung 1957:100-123); Steven 1982; Budi Darma 2004:46-9). Ia hadir dalam sastra dalam bentuk archetypal images, termasuk di dalamnya image-image simbolik, mitos dan motif-motif tertentudalam cerita (Jung 1957:112; Jacobi 1968). Di antaranya berupa bayangan, anima, animus, orang bijak, ibu agung, pahlawan, ayah, anak, dan diri (self).<br />
Tetapi Jung tidak menjelaskan bagaimana proses hadirnya image-image purbani itu dalam sastra. Ibn `Arabi menjelaskan bahwa proses itu terjadi karena pengarang menggunakan imaginasi kreatif dalam melahirkan karangannya. Imaginasi kreatif mengolah pengalaman dan gagasan-gagasan keruhanian pengarang, dan memberinya wadah berupa image-image purbani yang besifat simbolik. Image-image itu tampaknya diambil dunia empiris, tetapi sebenarnya berasal dari alam imaginal (`alam al-mithal) yang berada jauh di lubuk jiwa pengarang. Karya sastra dilihat sebagai representasi alam imaginal yang pembacaannya bisa utuh bilamana kita memahami makna batin yang dikandung simbol-simbolnya. Simbol-imbol itu lebih jauh berfungsi sebagai penghubung pengetahuan empiris dengan pengalaman intuitif mistikal (Corbin 1977:188).<br />
5. Metode<br />
Metode yang digunakan adalah gabungan Gadamer dan hermeneutika sufi (ta’wil). Keduanya saling melengkapi dan relevan dalam meneliti karya-karya bercorak mistikal dan simbolik. Dalam metode hermeneutika karya sastra dipandang sebagai wacana simbolik karena unsur fiksionalitas dan perumpamaa (metaphor) yang ada di dalamnya sangat menonjol. Dalam metode ini teks dikaji sebagai bentuk ‘pelambangan’ atas sesuatu yang lain (Corbin 1981:13 – 19). Sesuatu yang lain itu memiliki ‘cakrawala’ yang luas dibandingkan dengan cakrawala harafiah teks.<br />
Menurut Gadamer ada empat cakrawala tersembunyi dalam suatu teks filsafat atau sastra. Empat cakrawala itu ialah (1) Bildung atau pandangan keruhanian yang membentuk jalan pikiran seseorang, termasuk di dalamnya pandangan hidup (way of life), system nilai Weltanschauung; (2) Sensus communis, yaitu pertimbangan praktis, yang dalam sastra bisa terwujud dalam pemilihan tema atau permasalahan dengan mempertimbangkan perasaan komunitas di mana pengarang hidup; (3) Judgment atau pertimbangan, berhubungan dengan apa yang harus disampaikan dan diajarkan kepada masyarakat dengan mempertimbangkan baik buruknya; (4)Taste atau selera, cara-cara menyajikan sesuatu yang sesuai dengan selera masyarakat sezaman (Salleh Yaapar 2002:70-80; Sumaryono 1993:78-9).<br />
Dalam hermeneutika sufi, bildung dihubungkan dengan ontologi (falsafah wujud) dan psikologi sufi. Dalam ontology sufi, alam semesta terdiri dari empat tatanan wujud, secara berturut-turut dari atas ke bawah ialah alam ketuhanan (alam lahut), alam keruhanian (alam jabarut), alam kejiwaan (alam malakut), dan alam jasmani (alam nasut). Simbol perjalanan dalam sebuah karya mistikal seperti Dewa Ruci adalah perjalanan mendaki dari tatanan wujud terdendah menuju tatanan wujud tertinggi. Dalam wilayah pengalaman tentang wujud tertinggi itulah makna sebenarnya sebuah karya harus dicari (Salleh Yaapar 2002:81-94)<br />
6. Deskripsi Kisah Dewa Ruci<br />
Kisah Dewa Ruci mulai digubah pada abad ke-18 M berdasarkan teks abad ke-16 M Serat Syekh Malaya karangan Sunan Kalijaga. Ada dua versi dari teks abad ke-16 ini. Versi I menceritakan pertemuan Iskandar Zulkarnanin dengan Nabi Khaidir di sebuah pantai. Iskandar diseruh menyelam ke dalam lautan untuk mencari air hayat (ma` al-hayat) agar bisa hidup kekal. Versi II, peran Iskandar diganti oleh Syekh Malaya alias Sunan Kalijaga (Abdul Hadi W. M. 2002:322). Dalam Serat Dewa Ruci peran Syekh Malaya diganti oleh Bima, sedangkan Nabi Khaidir oleh Dewa Ruci.<br />
Cerita dimulai dengan peristiwa pertemuan Bima dan Drona menjelang perang Kurawa Pandawa meletus. Drona memerintahkan Bima mencari air hayat di puncak gunung Candradimuka agar bisa hidup kekal dan berjaya di medan perang. Setelah gagal menjumpai di puncak gunung, Bima disuruh mencarinya di dalam lautan. Dalam Serat Cabolek, bagian awal kisah tidak diceritakan. Kisah langsung dimulai dengan penyelaman Bima ke dalam lautan untuk mencari air hayat, suatu episode yang memang paling penting dalam kerangka suluk Dewa Ruci. Sinopsis ceritanya yang lengkap ialah sebagai berikut: Menjelang meletusnya perang Kurawa dan Pandawa (Bharatayudha) Drona memanggil muridnya Bima, putra kedua Pandu (Pandawa). Drona yang memihak Kurawa, mempunyai rencana jitu. Agar Bima yang sakti tidak ikut dalam perang Pandawa melawan Kurawa, ia harus disingkirkan. Drona menyuruhnya mencari air hayat ke puncak gunung Candradimuka.<br />
Sebagai murid yang patuh Bima menjalankan perintah gurunya. Drona gembira, karena yakin Bima akan mampus diterkam binatang buas dan raksasa. Tetapi di luar dugaan Bima dapat mengalahkan dua raksasa sakti dan ganas yang dijumpai di hutan dan merintangi perjalanannya. Namun alangkah kecewanya, setibanya di kawah Candradimuka putra Pandu dia tidak menemukan air hayat seperti dituturkan gurunya. Bima kembali menemui Drona. Drona mengeluarkan lagi tipu dayanya. Dia menyuruh Bima mengarungi samudra, karena air hayat itu terdapat di sana. Dengan tegap Bima pun berjalan menuju menuju laut, lantas berenang dan menyelam.<br />
Di dalam lautan dia berjumpa ular naga besar dan ganas menghalangi perjalanannya. Melalui pertarungan yang dahsyat, Bima dapat mengalahkan ular naga itu. Kemudian dia berjumpa dengan Dewa Ruci, manusia bertubuh kecil, yang rupanya mirip dengan dirinya, bermain-main seperti boneka bergerak-gerak. Dima mendapat pelajaran bahwa air hayat itu tidak lain ialah persatuan mistis dengan Yang Maha Tunggal (manunggaling kawula Gusti). Cara mencapainya dengan menjalani disiplin keruhanian yang keras, termasuk menundukkan hawa nafsu dan menycui dirinya. Bila itu dicapai ia akan mendapatkan hidup yang kekal di dalam Yang Maha Esa (baqa’). Dalam teks SC pencapaian ruhani (maqam) ini disebut “Weruh sangkan paraning dumadi” (mengetahui asal-usul dan tujuan segala kejadian).<br />
Dalam Serat Cabolek episode ini dituturkan oleh Ketib Anom di hadapan peserta musyawarah di kraton Kartasura, yang diadakan untuk mengadili Haji Mutamakin, seorang pembangkang dan penganut paham heterodoks seperti Syeh Siti Jenar. Dalam bagian inilah uraian tentang filsafat mistik Jawa diuraikan Episode ini dimulai pada pupuh VIII:12:<br />
Lajeng kinen nutugake<br />
Inggih pamahosipun<br />
Mardikani Serat Bima Suci<br />
Puniki kan pinurwa<br />
Ing nalikanipun<br />
Bima kinonumanjina<br />
Nengih maring talingane Dewa Ruci<br />
Sinawung ing sarkara<br />
(Lantas dia – Ketib Anom – meminta/Agar diperkenankan melanjutkan pembicaraan/Dan uraian tentang Serat Bima Suci/Dan mulai dengan kisah/Ketika Bima dititah/Masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci)<br />
Wuwusira Dewa Suksma Ruci:<br />
Payo Wrekudara dipun-enggal<br />
Manjinga garbengnyong kene!”<br />
Wrekudara gumuyu<br />
Pun angguguk turira aris:<br />
“Dene paduka bajang<br />
kawula geng luhur<br />
inggih panyawak parbata<br />
Saking pundi margina kawula manjing<br />
Jentik mangsa sedena’<br />
(Pupuh VIII:14)<br />
(Kata Dewa Ruci “Ayo Werkudara, cepat/Masuk ke dalam perutku!/Werkudara tertawa/Lantas bertanya perlahan,/“Tubuh paduka kecil,/Sedang saya tinggi besar/ Seperti gunung/Dari mana saya harus masuk, /Sedangkan jari saya saja sukar masuk!”)<br />
Angandika malih Dewa Ruci:<br />
“Gede endi sira lawan jagad<br />
kabeh iki saisine<br />
kalawan gunungipun<br />
samodrane alase sami<br />
tan sesak lumebuwa<br />
guwa garbaningsun”<br />
Wrekudara duk miyarsa<br />
Esmu ajrih kumel sandika turneki:<br />
Mengleng sang Ruci Dewa:<br />
(Pupuh VIII:15)<br />
(Dewa Ruci berkata lagi,/Mana yang lebih luas, kau atau alam raya?/Seluruh jagat seisinya/Dengan semua gunung/Lautan dan rimba rayanya/Semua dapat masuk tanpa kesulitan/Ke dalam tubuhku!”/Mendengar itu Werkudara merasa putus asa”.<br />
Dewa Ruci lantas menyuruh Bima masuk melalui telinga. Sesampainya dalam perut Dewa Ruci ia menyaksikan lautan luas.ak terhingga bentangan ufuknya. Dia merasa berjalan di awing-awang, dalam ruang kosong yang tidak terhingga luasnya. Sesudah itu tiba-tiba telah berada di hadapan Dewa Ruci. Kembarannya itu tampak berkilauan. Hatinya merasa tentram. Setelah itu Bima diminta agar memusatkan perhatian ke arah depan. Ia lantas menyaksikan empat warna, tetapi dengan cepat lenyap dari pandangan. Empat warna itu ialah hitam, merah, kuning, putih. Tiga yang pertama merupakan bagian dari badan jasmani dan penyebab rusaknya kalbu atau hati. Yang satu lagi (putih) mendatangkan kebaikan. Agar mencapai persatuan dengan Yang Gaib, seseorang harus membebaskan diri dari yang tiga. Sebab ketiganya merintangi pikiran dan kemauan orang yang ingin fana’ atau hapus dalam Suksma Sejati (Pupuh VIII:16-20)<br />
Dalam pupuh VIII:27-28 dikemukakan bahwa hati yang bersih yang dapat membuat orang memperoleh hidayah. Setelah warna yang empat lenyap, lantas muncul Cahaya Tunggal delapan warna. Werkudara bertanya: “Apa nama cahaya delapan warna ini/Merupakan hakekat sejati?/ Tampak seolah permata gemerlapan/ Kadang seperti bayangan, mempesona/Kadang pancaran sinarnya bagaikan zamrud”. Dewa Ruci menjawab: “Inilah intipati kesatuan/Artinya segala hal yang ada di alam dunia/Ada pula dalam dirimu/Pun semua yang ada di alam dunia/Memiliki padanan dalam dirimu/Antara jagad besar/Dan jagad kecil tidak berbeda..//Seperti warna yang empat/Kepada dunia memberi hayat/ Jagad besar dan jagad kecil/ Setiap yang ada sama dalam keduanya/Jika rupa di alam dunia/Ini lenyap seisinya/Maka semua wujud akan tiada/Dan menyatu dalam wujud tunggal/Tiada lelaki atau wanita” (Pupuh VIII:29<br />
Bima bertanya kepada Dewa Ruci, apakah yang tampak itu merupakan dhat hakiki yang dicarinya selama ini? (Punapa inggih punika/warnaning dhat kan pinrih dipun ulati/kang sayektining rupa?). Dewa Ruci menjawab, bukan itu yang harus dicari. Inti pati dari semua ini tidak dapat dilihat dengan mata, tidak dijumpai di mana-mana, kecuali dalam hati dan jiwa manusia. Apa yang tampak di alam dunia dan kehidupan manusia itu hanyalah isyarat, tanda-tanda atau ayat-ayat-Nya, yang memberi petunjuk kehadiran Yang Maha Gaib dalam kehidupan (Pupuh VIII:31-2)<br />
Sang Guru kemudian menerangkan tentang cahaya gemerlapan yang disebut pramana. Pramana adalah pemberi hidup kepada tubuh jasman. Jika ia meninggalkan badan, maka badan tidak berdaya lagi. Pramana memperoleh hidup dari Sang Suksma atau Ruh Tertinggi, yaitu Dia Yang Maha Hidup dan pemberi hidup. Kemudian Dewa Ruci menjelaskan bahwa pramana merupakan tajalli (pancaran) dari Yang Satu. Ia tidak menyerupai apa pun dan sukar digambarkan. Pada awalnya pramana itu satu dengan Sang Pencipta, tetapi setelah diberi rupa cahaya maka ia menjadi terpisah dari asal-usulnya Pupuh VIII:33-36)<br />
Mendengar hal itu Bima semakin ingin mengetahui rahasianya. Ia malahan berkeinginan tinggal di tempat sunyi itu selamanya. Tetapi Dewa Ruci tak mengizinkan. Bima harus menjalani kehidupan di dunia karena tugasnya belum selesai sebagai seorang kesatria. Sebagai gantinya Dewa Ruci memberi pelajaran tentang rahasia Yang Hakiki, dan cara mencapai persatuan dengan-Nya.<br />
Setelah kita mengetahui isi cerita Dewa Ruci, kita akan mengerti mengapa para sarjana sependapat mengatakan bahwa suluk ini merupakan lakon yang tidak hanya membicarakan hubungan manusia dengan Tuhan, alam semesta, dan dirinya. Tetapi juga membicarakan tujuan hidup manusia yang sebenarnya, dan cara mencapai tujuan itu. Tujuan yang ingin dicapai manusia Jawa ialah pamoring kawula gusti, karena Tuhan itu merupakan sangkan paraning dumadi. Dengan itu manusia itu akan mencapai kebahagiaan.<br />
Jalan yang harus ditempuh ialah dengan menundukkan hawa nafsu (mujahadah) dan menyucikan diri (tadzkiya al-nafs). Pada akhir perjalanannya ia akan menyaksikan bahwa tiada yang maujud selain Tuhan. Penulis Serat Cabolek menggunakan ungkapan “Weruh sangkan paraning dumadi”, yang dapat dirujuk pada pendapat Imam al-Ghazali. Dalam Kimiya-i Sa`adah (Kimia Kebahagiaan) ia mengatakan bahwa tujuan hidup ialah untuk mengenal hakikat diri, sehinga dengan demikian seseorang dapat merealisasikan dirinya. Ghazali berpedoman pada sebuah hadis qudsi yang menyatakan, “Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya”. Maksudnya barang siapa mengenal hakikat dirinya, ia akan mengenal asal-usulnya. Makna ungkapan ‘weruh sangkan paraning dumadi’ lebih kurang seperti itu.<br />
Dalam suluk ini terdapat beberapa symbol konseptual atau image-image yang berfungsi sebagai simbol dari konsep-konsep filsafat mistik Jawa dan tasawuf. (1) Pencitraan Dewa Ruci sebagai kembaran Bima, namun tubuhnya lebih kecil); (2) Lautan tempat air hayat; (3) Air Hayat; (4) Sinar pancamaya, pencitraan tentang hati atau kalbu; (6) Empat warna, yang merepresentasikan empat hawa nafsu dalam jiwa badani manusia; (7) Cahaya tunggal yang disebut pramana.<br />
Simbol-simbol ini secara berurutan berkaitan dengan psikologi, kosmologi, dan ontologi sufi. Juga dengan peringkat-peringkat keruhanian (maqam) dan keadaan ruhani (ahwal) yang dialami seorang ahli suluk dalam upayanya mencapai Yang Satu. Image-image atau citraan-citraan itu selain purbani juga universal.<br />
7. Analisis Simbol Laut dan Air Hayat<br />
Pencitraan Dewa Ruci sebagai kembaran Bima memperlihatkan bahwa dalam psikologi sufi dan mistik Jawa dikenal dua jenis ‘diri’ (self), yaitu ‘diri jasmani’ yang direpresentasikan oleh Bima dan ‘diri ruhani’ (higher self) yang direpresentasikan oleh Dewa Ruci. Dalam tasawuf, ‘diri jasmani’ disebut nafs atau hawa nafsu. Karena menempati alam bawah (alam nasut) ia disebut lower self dalam bahasa Inggeris. Perjalanan ruhani seorang penuntut ilmu suluk, dilukiskan oleh Rumi sebagai ‘perjalanan dari ‘diri’ ke Diri’, yaitu dari ‘diri palsu’ ke ‘Diri Hakiki’. (Happold 1981:58-61). ‘Diri ruhani’ disebut juga sebagai badan halus, tempatnya dalam tatanan wujud ialah di alam keruhanian (alam jabarut). Sedangkan ‘diri jasmani’ disebut badan kasar.<br />
Perjalanan mencapai ‘diri ruhani’ hanya bisa dilakukan oleh Bima dengan menyelam ke dalam lautan untuk mendapatkan air hayat. Dalam wacana sastra sufi, khususnya dalam filsafat mistik Ibn `Arabi, simbol lautan digunakan untuk menggambarkan ketakterhinggaan dan keluasan wujud Tuhan. Sastrawan sufi Melayu yang banyak menggunakan simbol ini ialah Hamzah Fansuri. Misalnya seperti dalam syairnya Bahr al-`Ulya atau Lautan Wujud Yang Maha Tinggi. Dalam syair itu Wujud Mutlak dikiaskan sebagai Bahr al-`ulya (Lautan Maha Tinggi). Ia merupakan asal-usul segala kejadian, sebab salah satu dari tujuh sifat-Nya yang utama ialah Maha Hidup (al-hayy) yang memberikan hidup kepada segala sesuatu. Sifatnya yang lain ialah maha memiliki ilmu (`ilm) dan karenanya Maha Tahu (`alim) (Abdul Hadi W. M. 2001:395). Tema serupa diuraikan dalam Dewa Ruci ketika Bima berjumpa Dewa Ruci, guru spiritualnya itu.<br />
‘Air Hayat’ adalah simbol bawahan dari Lautan. Simbol ini dikenal di Nusantara sejak masuknya agama Islam bersama tasawufnya. Dalam teks-teks Jawa Kuna, yang mewakili teks-teks paling tua di Nusantara, pemakaian simbol seperti itu tidak dijumpai. Tamsil air hayat dalam sastra Nusantara dijumpai untuk pertama kali dalam Hikayat Iskandar Zulkarnain yang teks Melayunya telah ditulis pada abad ke-15 M (Braginsky 1998); kemudian dalam teks Jawa dan Melayu abad ke-16 M seperti Serat Syekh Malaya Sunan Kalijaga dan Syair Tauhid dan Makrifat Hamzah Fansuri.<br />
Kata ‘air hayat’ adalah terjemahan dari kata Arab ma` al-hayat. Simbol atau tamsil ini digunakan untuk menyebut pengetahuan mistikal (ma`rifa) yang mengantarkan seseorang mencapai persatuan mistis dengan Tuhan (pamoring kawula gusti). Dengan bekal pengetahuan itu seseorang akan fana`(luluh dalam sifat ketuhanan) dan baqa’ (kekal dalam Yang Maha Abadi). Judul risalah tasawuf Nuruddin al-Raniri, ulama Aceh abad ke-17 M, memakai kata-kata itu untuk menerangkan pentingnya ilmu haqiqat atau makrifat.<br />
Dalam syair Hamzah Fansuri, makrifat ditamsilkan sebagai air hayat, sebab pengetahuan inilah yang dapat menghidupkan jiwa yang mati dan yang dengan itu menyebabkan seseorang mengenal kebenaran hakiki dan mencapai persatuan mistikal dengan Tuhannya. Dengan demikian ia merasakan hidup kekal (baqa) bersama Tuhan. Dalam syairnya Hamzah Fansuri antara lain menyatakan:<br />
Aho segala yang berhati<br />
Jangan lupa akan ma`al hayati<br />
Barang siapa tahu akan laut yang jati<br />
Dunia akhirat tiada akan mati<br />
(IX:1 AH. 364)<br />
Disiyaratkan dalam bait ini bahwa untuk mendapat ma` al-hayat atau air hayat (makrifat) seseorang harus menggunakan sarana yang terdapat dalam kalbu atau hati. Selanjutnya dikatakan bahwa lautan itu bernama ahad (lautan wujud yang esa) yang sifat-sifat-Nya meliputi segala sesuatu. Salah satu sifat-Nya yang lain ialah jamal (maha indah). Keindahannya itu cahayanya terang. Kata Hamzah, “Jamal itulah cahayanya terang/ Pada kedua `alam adanya senang/ Barangsiapa sampai pada laut yang tenang/ Dunia akhirat terlalu menang” (IX:13 AH p.367). Pokok yang sama dibahas dalam Dewa Ruci (pupuh VIII).<br />
Dikatakan juga bahwa kedua alam itu diliputi oleh Dzat-Nya sepanjang zaman, yaitu oleh sifat-sifat-Nya sebagai pemberi hayat, ilmu, maha berkehendak, dan lain sebagainya. Hamzah Fansuri menghubungkan simbol ‘air hayat’ dengan pengetahuan tentang ‘diri’, kehampiran manusia dengan Sang Pencipta, persatuan mistik dan cahaya-Nya yang maha indah. Untuk mendapat air hayat itu seorang penuntut ilmu suluk harus menyelam ke dalam lautan wujud alam semesta. Lukisan tentang lautan wujud dalam syair Hamzah Fansuri, tidak jauh berbeda dengan lukisan dalam Dewa Ruci. Kata Hamzah:<br />
Laut itulah yang bernama sedia<br />
Tempatnya gaib terlalu sunya<br />
Sungguh pun Tuhan yang maha mulia<br />
Hampir-Nya sangat kepada yang mengenal Dia<br />
Adalah juga menarik bahwa persoalan ‘kesatuan transenden wujud’ yang dalam Dewa Ruci dan ditafsirkan sebagai ajaran ‘kebhinnekaan dalam keekaan’ dan serta dilambangkan sebagai ‘cahaya tunggal’ yang memiliki delapan warna dikaitkan hanya dengan pandangan Imam al-Ghazali (Soebardi 1975:50). Padahal yang membahas masalah ini sebenarnya adalah Ibn `Arabi dan para pengikutnya seperti Maghribi. Misalnya seperti terlihat dalam terjemahan Inggeris dari sebuah syairnya:<br />
Know that Named is one and the Names a hundred thousand<br />
The being is one, but its aspects are a hundred thousand<br />
…<br />
Without His Being all the world is non-existent<br />
Of His Being and Bounty the world is a sign<br />
The world arises from diffusion of His Unversal Being<br />
Whatever thou seest is from His Universal Bounty<br />
(Browne III 1976:472)<br />
Ketahuilah yang diberi Nama hanya satu, namun nama seratus ribu<br />
Wujud itu satu, tetapi pancarannya seratus ribu<br />
…<br />
Tanpa Wujud-Nya seluruh alam tidak maujud<br />
Dari Wujud dan Rahmah-Nya dunia menjadi sebuah ayat<br />
Dunia memancar dari perpaduan Wujud-Nya yang Sejagat<br />
Apa pun yang kau saksikan di alam semesta itu berasal dari Rahmat-Nya<br />
Dalam Dewa Ruci, Cahaya Tunggal sang Wujud itu digambarkan memiliki delapan warna. Ungkapan ini dapat dirujuk ayat al-Qur’an (52:4) yang menyatakan bahwa `Arasy merupakan singgsana Tuhan yang dijaga oleh delapan malaikat.<br />
8. Analisis Simbol Cahaya dan Kalbu<br />
Pencitraan sinar warna-warni yang berkilau-kilauan, serta memberikan kekuatan hidup kepada kalbu, dapat dirujuk kepada psikologi Imam al-Ghazali. Khususnya dalam Ihya `Ulumuddin III, bab tentang keajaiban hati. Dalam kitabnya itu Imam al-Ghazali menyatakan bahwa dalam bentuk dan susunannya tubuh manusia itu mengandung empat campuran dan karenanya di dalamnya ada empat macam sifat, yaitu nafsu serigala (nafsu amarah), nafsu binatang (nafsu syahwat), nafsu setani (nafsu lawamah) dan nafsu malaikat (nafsu sufiyah) dan nafsu mutmainah (ketenangan) yang memancar dari sifat ketuhanan yang ada dalam diri manusia (Abdul Mudjieb 1986:39).<br />
Ketika manusia dikuasai oleh nafsu amarah yang dilambangkan dengan warna hitam, ia akan melakukan perbuatan serigala seperti senang akan permusuhan, penuh kebencian dan sangat agresif kepada manusia lain. Ketika seseorang dikuasai oleh syahwatnya, yang dilambangkan dengan warna merah, ia akan melakukan perbuatan binatang seperti lahap, rakus, brutal dan senang melampiskan nafsu berahinya. Selanjutnya begitu urusan ketuhanan meresap ke dalam hawa nafsunya, maka ia akan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Ia mulai menyukai kekuasaan, keluhuran dan kebebasan, serta berkeinginan untuk menguasai dunia demi dirinya sendiri. Inilah nafsu setani yang dilambangkan dengan warna kuning. Nafsu sufiyah dan mutmainah dilambangkan dengan warna putih. Jika manusia dikuasai oleh sifat-sifat ketuhanan (rabbaniyah), kata Imam al-Ghazali, maka hidupnya akan dibimbing oleh ilmu, hikmah dan keyakinan dan mampu memahami hakikat segala sesuatu. Ia akan mengenal segala sesuatu dengan kekuatan ilmu dan mata hati. Akan memancar pula darinya sifat-sifat yang mulia seperti kesucian diri, suka menerima apa yang dianugerahkan kepadanya, tenang, zuhud, wara’, taqwa, selalu riang hatinya., gemar menolong, punya rasa malu dan rasa bersalah.<br />
Hati orang yang telah diresapi sifat-sifat ketuhanan itulah, kata Imam al-Ghazali, dapat disebut sebagai cermin cerlang yang memancarkan cahaya berkilauan. Di sini Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis dari Abu Mansur al-Dailani, “Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mencapai kebaikan, akan didijadikan kalbu baginya sebagai penasehat bagi dirinya.” Dewa Ruci sebagai guru dan penasehat Bima dalam Serat Cebolek, adalah representasi dari kalbu yang dijadikan penasehat bagi seseorang yang telah mampu menundukkan hawa nafsunya.<br />
Penggunaan tamsil-tamsil berkenaan dengan cahaya, kekosongan dan lain dalam kisah Dewa Ruci ini juga dapat dirujuk pada hadis Nabi yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya `Ulumuddin. Di antara hadis Nabi yang dikemukakan itu ialah seperti yang diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Thabrani, “Hati seorang mukmin itu kosong, di dalamnya ada lampu yang bersinar-sinar, sedangkan hati orang yang sesat itu hitam dan terbalik”.<br />
Sedangkan hadis yang diriwayatkan oleh Khudiri ialah seperti berikut, “ Hati itu ada empat macam, yaitu: (1) Hati yang kosong atau bersih yang di dalamnya ada lampu yang bersinar, hati yang demikian itulah hati orang mukmin; (2) Hati yang hitam dan terbalik, hati yang demikian itulah hati orang yang ingkar; (3) Hati yang terbungkus dan terbelenggu oleh bungkusnya, hati yang demikian itulah hati orang munafik; dan (4) Hati yang bercampur aduk, di dalamnya ada iman dan nifaq”. Selanjutnya dijelaskan bahwa hati menjadi jernih dan penglihatan batin menjadi terang disebabkan iangat kepada Allah dan taqwa. Ingat akan Allah merupakan pintu kasyf (tersingkapnya hakikat segala sesuatu) dan kasyf itu merupakan pinmtu keberuntungsn, yaitu keberuntungan berjumpa dengan-Nya (Abdul Mudjieb 1986 46-8).<br />
Dalam uraian selanjutnya, dengan merujuk kepada pendapat Imam al-Ghazali itu, Yasadipura I menulis bahwa hati yang bersih dan kosong itu saja yang dapat membawa seseorang mencapai hidayah (petunjuk) ilahi (pupuh VIII:15-18): “Jika kau berhasil mengatasi/Tiga bentuk nafsu ini/Persatuanmu akan sempurna/Kau tak perlu lagi pembimbing/Mencapai persatuan hamba dan Gusti (pamoring kawula Gusti)/Setelah Werkudara mendengar ini/Kerinduan hatinya membara/Berahinya (`isyq) kian berkobar/Hatinya dirasuki/Keinginan manunggal//Warna yang empat sirna pula dari pandangan /Tinggal cahaya tunggal delapan warna/Kata Werkudara:/“Apa nama cahaya delapan warna ini/Merupakan hakekat sejati?/Tampak seolah permata gemerlapan/Kadang seperti bayangan, mempesona/Kadang pancaran sinarnya bagaikan zamrud”.<br />
Selanjutnya, “Dewa Ruci, Sang Nur seantero jagad/Lantas menjawab:/“Inilah intipati kesatuan/Artinya segala hal yang ada di alam dunia/Ada pula dalam dirimu/Pun semua yang ada di alam dunia/Memiliki padanan dalam dirimu/Antara jagat besar/Dan jagat kecil tidak berbeda/Ia adalah asal-usul utara, selatan, timur/Barat, zenith dan nadir//Seperti warna yang empat/Kepada dunia memberi hayat/Jagad besar dan jagad kecil/Setiap yang ada sama dalam keduanya/Jika rupa di alam dunia/Ini lenyap seisinya/Maka semua wujud akan tiada/Dan menyatu dalam wujud tunggal/<br />
Tiada lelaki atau wanita”.<br />
Kemudian dijelaskan bahwa tahap awal yang harus ditempuh ahli suluk untuk mencapai “Pamoring Kawula Gusti” dan memahami makna “Sangkan Paraning Dumadi” secara mendalam ialah melalui pengendalian diri atau kecenderungan-kecenderungan buruk dari hawa nafsu.<br />
Dalam ilmu tasawuf, tahapan awal ini disebut mujahadah, perjuangan batin melawan kecenderungan buruk dalam diri. Mujahadah mencakup tiga hal: (1) Penyucian diri (thadkiya al-nafs); (2) Pemurnian hati (tashfiyat al-qalb); (3) Pengosongan jiwa terdalam (takhliyat al-sirr). Pengosongan jiwa terdalam atau sirr dilakukan dengan memusatkan diri kepada Yang Satu dan mengosongkan diri dari yang selain-Nya (Mir Valiuddin 1980:1-3).<br />
Demikianlah setelah Bima menempuh tahap awal dari perjalanan keruhaniannya itu, ia berjumpa dengan Dewa Ruci yang digambarkan seperti mutiara dengan sinar warna-warni gemerlapan. Ia tidak lain adalah gambaran tentang hati terdalam manusia dan merupakan manifestasi (tajalli). kebesaran dan keindahan Tuhan. Dewa Ruci adalah lambang dari hakikat diri dan perjumpaan dengannya disebut musyahadah, penyaksian atas tanda-tanda dari kehadiran Yang Satu.<br />
Uraian tentang hati dan lambang-lambangnya dalam suluk itu merujuk pada uraian Imam al-Ghzali tentang hati dalam Ihya `Ulumuddin III. Menurut Imam al-Ghazali, hati adalah substansi lembut yang bersifat ketuhanan dan ruhaniah, dan mempunyai hubungan dengan hati jasmani – segumpal daging bulat panjang di dada kiri manusia. Substansi lembut ini merupakan hakikat manusia yang dapat memahami dan mengenal Tuhan, sebab ia memiliki ilmu untuk itu (Abdul Mujieb 1986:11-2).<br />
Dikatakan pula bahwa hati mempunyai ilmu dan merupakan sasaran perintah dan larangan Tuhan. Ia mempunyai hubungan erat dengan mukasyafah (tersingkapnya penglihatan batin). Ruh manusia yang tidak tampak dan tidak dikenal dengan mata jasmani, hanya dapat diterangkan sebagai badan halus dan substansi halus. Ia memiliki ilmu untuk menangkap segala pengertian dan obyek-obyek. Badan halus bersumber dari rongga hati manusia, yang melalui perantaraan otot-otot dan urat-urat yang beraneka ragam tersebar ke seluruh tubuh. Ia memancarkan sinar kehidupan, menyebabkan munculnya perasaan, pengliihatan, pendengaran dan penciuman. Ia dapat diumpamakan sebagai berkas-berkas sinar memancar dari sebuah lampu yang tersebar ke seluruh sudut ruang dalam rumah.<br />
Hidup ini, kata al-Ghazali, adalah laksana sinar yang tersebar di dinding-dinding rumah jasmani kita, sedangkan ruh merupakan lampunya. Perjalanan ruh dan geraknya dalam batin seseorang, seperti gerak lampu yang memancarkan sinar ke seluruh ruangan dalam rumah dan ada penggeraknya. Adapun yang kedua, yaitu substansi halus dalam diri manusia yang memiliki ilmu, merujuk kepada hati (Ibid 13-4).<br />
Marilah kita bandingkan dengan uraian yang dikemukakan pengarang Serat Cabolek. Sinar gemerlapan yang disebut pramana dan memberikan kehidupan pada tubuh adalah manifestasi (tajalli) Hyang Suksma dalam diri manusia. Hyang Suksma adalah sumber kehidupan dalam arti sebenarnya. Pramana berada dalam tuibuh manusia, tetapi tidak nampak dan tidak terpengaruh oleh suka dan dukla, sedih dan bahagia, haus dan lapar. Ia merupakan individuasi dari hakikat ketuhanan (Soebardi 1975:50). .<br />
Sangat menarik bahwa substansi halus yang memancarkan sinar gemerlapan itu disebut pramana. Dalam falsafah India, kata-kata pramana digunakan secara intensif oleh para filosof Nyaya dan Vaiseshika dan lazim diartikan sebagai metode, kaedah, pedoman atau cara-cara mencapai ilmu pengetahuan, bukan seseorang atau sesuatu yang memiliki metode atau ilmu. Istilah Sanskrit lain yang mirip dengan kata-kata pramana, ialah prana, yang lazim digunakan oleh para filosof Yoga seperti Patanjali untuk menyebut energi atau daya hidup dalam tubuh manusia yang memiliki sifat ilahiyah.<br />
Sangat mungkin istilah pramana yang digunakan filosof Nyaya dan Vaishesika berubah arti di tangan para mistikus Jawa, atau sangat mungkin pula bahwa kata-kata itu memiliki kaitan dengan istilah prana. Atau mungkin pula para pengarang Jawa termasuk Yasadipura I sengaja menggabungkan pengertian dari dua istilah ini dalam upayanya menarjemahkan gagasan Imam al-Ghazali tentang kalbu sebagai substansi halus dalam tubuh yang bersifat ilahiyah dan memancarkan sinar gemerlapan.<br />
Simbol pramana juga dapat dikaitkan dengan konsep Nur Muhammad dalam tasawuf, yang digambarkan sebagai cahaya berkilauan (Tanoyo 1979). Dalam Dewa Ruci substansi halus ini juga dilukiskan sebagai cahaya gemerlapan. Yasadipura I kemudian menghubungkan pula simbol cahaya ini dengan konsep mukasyifat, yaitu sang pemberi kehidupan. Arti mukasyifat ialah dia yang memberikan kasyf (penglihatan batin yang terang, illuminasi) yang tidak lain adalah Tuhan. Wakilnya dalam tubuh manusia ialah pramana, yang juga diartikan sebagai substansi yang memberi kehidupan pada tubuh.<br />
Konsep Nur Muhmmad itu dikemukakan mula-mula pada abad ke-8 M oleh Ibn `Ishaq, penulis riwayat hidup Nabi paling awal. Berdasarkan hadis qudsi dikatakan bahwa sebelum alam semesta dicipta, yang dicipta lebih dahulu adalah Nur Muhammad. Nur Muhammad ini dicipta dari nur-Nya (Ismail Hamid 1983:29-31; Ali Ahmad dan Si Hajar Che Man 1996:4-10). Tetapi yang pertama kali memperkenalkan symbol ini sebagai symbol konseptual sufi ialah Sahl al-Tustari (w. 896 M). Menurut Tustari, asal-usul Nur Muhammad sebagai esensi penciptaan ialah sekumpulan dzat yang berkilauan di dalam bentuk amud, dan amud ini kemudian berdiri di hadapan Tuhan setelah diciptakan. Pada permulaan kejadiannya itu Nur Muhammad berdiri tegak di hadapan Tuhan selama berjuta-juta tahun sebelum makhluq-makhluq lain dijadikan. Pada waktu alam semesta telah dicipta, kemudian Adam dijadikan dari segumpal tanah sebagai badan jasmaninya dan ke dalamnya dimasukkanlah ruh atau nur, yang disebut Nur Muhammad (Bowering 1979:125).<br />
Konsep Nur Muhammad disempurnakan pada abad ke-12 oleh Ibn `Arabi.` Menurutnya Nur Muhammad adalah Cahaya pertama yang keluar dari Hijab Yang Gaib dan muncul dari pengetahuan (`ilm) menuju alam kewujudan yang nyata. Penjelasan yang lebih filosofis dijumpai dalam kitab Misykat al-Anwar (Misykat Cahaya-cahaya). Dengan menggunakan metode hermeneutika atau ta’wil, yaitu bentuk tafsir simbolik sufi, Ibn `Arabi berpendapat bahwa yang dimaksud ‘cahaya’ (nur) dalam al-Qur’an (ayat atau surat al-Nur) adalah esensi tunggal yang mendasari semua bentuk keberadaan atau wujud di alam semesta ini. Sedangkan kegelapan adalah ketiadaan atau ketakwujudan paling nyata. Jagat raya atau alam semesta dicipta dari kegelapan yang di atasnya Tuhan menaburkan Cahaya-Nya sendiri, dan membuat bagian-bagian dari cahaya itu berbeda sesuai peringkatnya.<br />
Berkaitan dengan ini, Imam al-Ghazali mengatakan bahwa mata jasmani kita hanya dapat melihat perwujudan lahir dari Cahaya Mutlak itu, sedangkan wujud ruhaninya tidak dapat dilihat. Untuk melihatnya diperlukan bantuan pengetahuan khusus, yaitu makrifat. Dengan makrifat maka penglihatan batin (basha`ir) seseorang akan tersingkap dan hijab yang selama ini merintanginya akan enyah. Pengetahuan khusus ini bersemayam dalam ‘kalbu’, sehingga dikatakan bahwa ‘dalam kalbu ada jendela untuk melihat Tuhan’ (Abdul Hadi W. M. 2001:56-8). Mengenai ini dalam syairnya Hamzah Fansuri menyatakan seperti berikut:<br />
Unggas nuri asalnya cahaya<br />
Diamnya da’im di Kursi Raja<br />
Dari nur-nya lahir fakir dan kaya<br />
Menjadi insan, tuan dan saya<br />
Yang dimaksud ‘unggas nuri’ dalam syair tersebut ialah ruh manusia, dan asal-usul ruh ialah cahaya. Cahaya ciptaan yang tertinggi ialah Nur Muhammad. Dalam Hikayat Kejadian Nur Muhammad, cahaya terpuji yang disebut Nur Muhammad itu juga digambarkan sebagai ‘burung yang cahayanya berkilauan’. Kadang disebut burung pingai, burung nuri, dan unggas nuri. Selanjutnya dinyatakan oleh Hamzah Fansuri dalam syairnya itu bahwa keindahan burung itu memancar dari keindahan Tuhan. Bulunya adalah ‘akal semesta’ (`aql al-kulliy), kukunya ‘kalam kemuliaan’ , gurunya Allah Ta`ala, kakinya jalal (kuasa) dan jamal (indah), jari-jarinya nur al-awwal (cahaya pertama), hatinya bernama Law al-mahfudz (lembaran terpelihara), dan setelah tersucikan kalbunya maka ia menjadi jawhar (substansi) dengan safi (suci)-nya.<br />
Penggambaran tentang pramana dalam Dewa Ruci, tidak jauh berbeda dengan penggambaran Imam al-Ghazali dan Hamzah Fansuri. Ini menunjukkan eratnya hubungan teks-teks filsafat mistik Jawa dengan teks-teks filsafat mistik Islam.<br />
9. Akhir Kalam<br />
Dari penelitian ini bisa diambil beberapa kesimpulan seperti berikut: Pertama, bahwa empat cakrawala estetik yang melapisi kisah Dewa Ruci dalam Serat Cebolek mencerminkan pandangan hidup, system nilai dan Weltanschauung (gambaran dunia) orang Jawa terepresentasikan dengan baik dalam karya Yasadipura I ini. Pandangan hidup dan gambaran dunia itu didasarkan atas ajaran tasawuf Imam al-Ghazali berkenaan dengan etika dan psikologi sufi, Ibn `Arabi tentang falsafah wujud atau ontologi, yang disinthesakan dengan dasar-dasar mistisisme Jawa sebelum Islam. Inilah aspek bildung dari suluk ini.<br />
Kedua, pemilihan tokoh Bima dan Dewa Ruci sebagai pelaku utama memperlihatkan sensibilitas pengarang dalam membuat pertimbangan praktis, yaitu dengan bertolak dari alasan-alasan kultural. Meskipun agama Islam diterima oleh orang Jawa, namun pada saat yang sama pengarang mengingatkan agar jatidiri dan budaya Jawa lama jangan dibuang. Caranya dengan menghidupkannya seraya memberikan wadah terhadap ajaran agama yang baru dipeluk. Kecuali itu pengarang juga mengenal dengan baik kegemaran orang Jawa pada lakon wayang, sebagai pembentuk ketaksadaran dan kesadaran kolektif mereka.<br />
Ketiga, aspek yang bertalian dengan pertimbangan praktis lain ialah penyampaian kisah Dewa Ruci dalam bingkai cerita sejarah, sedangkan kisah inti tentang perjalanan Bima diambil dari wiracarita atau cerita kepahlawanan (epos). Orang Jawa menyukai peristiwa-peristiwa sejarah yang terkait dengan timbul tenggelamnya kerajaan-kerajaan feudal mereka, konflik-konflik internal yang terjadi. Di samping itu mereka menyukai mistik, dan cerita kepahlawanan. Penggabungan semua ini dalam Serat Cebolek memperlihatkan kepiawaian Yasadipura I.<br />
Keempat, secara bersama-sama pula semua itu memperlihatkan pengarang Serat Cabolek tahu selera (taste) masyarakatnya. Ketahuannya yang lain diperlihatkan melalui usahanya untuk menyerasikan filsafat mistik Jawa dengan tasawuf Islam, dalam upaya meredakan ketegangan teologis yang mengancam keutuhan budaya Jawa.<br />
Kelima, suatu hal yang tidak pernah dibahas secara mendalam ialah peranan teks-teks Melayu Islam dari Sumatra dalam ikut membentuk pandangan hidup dan etika Jawa yang berdasarkan Islam. Melalui teks-teks Melayu inilah kaum terpelajar Jawa mengenal filsafat mistik dan kebudayaan Islam. Kemiripan tematik karya Yasadipura I dan syair-syair tasawuf Hamzah Fansuri memperlihatkan hubungan erat kebudayaan Jawa dengan Melayu pada dataran spiritualitas.<br />
Keenam, teks Dewa Ruci sebagai teks sinthesis kebudayaan Jawa dan Islam ditulis bukan tanpa motif politik, apalagi dimasukkan menjadi bagian dari Serat Cabolek, sebuah suluk yang diawali dengan pemaparan perisiwa-peristiwa politik penting di lingkungan kraton Kartasura pada masa pemerintahan Amangkurat IV dan penggantinya Pakubuwana II. Khususnya peristiwa-peristiwa politik yang mau tidak mau melibatkan peranan para ulama pesisir dan pembangkangan para mistikus ortodoks. Bahwa kemudian ternyata kalangan istana digambarkan mampu mengakhiri pertentangan teologis antara dua pihak yang saling bertentangan itu, menunjukkan bahwa teks Dewa Ruci Yasadipura I ditulis bukannya tanpa motif politik tertentu.<br />
Mengenai motif politik penulisan Serat Cabolek, yang di dalamnya kisah Dewa Ruci dijadikan sentral pembahasan, Simuh (1988:33) mengatakan bahwa perkembangan sastra Jawa sejak lama didukung terutama oleh golongan istana. Mereka menganggap politik mempunyai nilai yang lebih tinggi dari agama. Karena itu semua kegiatan sastra dan keagamaan selalu diarahkan untuk mendukung kepentingan politik penguasa. Penerapan masalah agama diselaraskan dengan kepentingan keagamaan. Tasawuf diutamakan karena ia lebih mudah dicerna dan disesuaikan dengan tradisi mistik Jawa. Sedangkan penyelarasan antara tasawuf dan mistisisme Jawa dilakukan untuk meredakan dan mendamaikan konflik antara pendukung syariah dan pemuka ajaran heterodoks, karena sumber-sumber pembangkangan dan krisis politik di Jawa tidak jarang bersumber dari dua kelompok ini.<br />
Bibliografi<br />
Abdul Hadi W. M. (2001). Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik Terhadap<br />
Karya-karya Hamzah Fansuri. Jakarta: Paramadina.<br />
Ali Ahmad dan Siti Hajar Che Man (1985). Bunga Rampai Sastera Melayu Warisan<br />
Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.<br />
al-Ghazali, Imam (1986). Rahasia Keajaiban Hati. Terjemahan Ihya `Ulumuddin III<br />
oleh M. Abdul Mujieb. Surabaya: Mahkota.<br />
Behrend, T. E. (1990). Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara I. Museum<br />
Sonobudoyo Yogyakarta. Jakarta: Djambatan.<br />
Berg, C. C. (928). Inleiding tot de Studie van het Oud-Javaansch. Surakarta: De<br />
Bliksem.<br />
Budi Darma (2004). Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa.<br />
Bowering, Berhard (1979). The Message of the Prophet. Islamabad: Governement of<br />
Pakistan.<br />
Braginsky, V. I. (1995). Erti Keindahan dan Keindahan Erti Dalam Kesusasteraan<br />
Melayu Klasik. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.<br />
——————– (1998). Yang Indah, Yang Berfaedah dan Yang Kamal: Sastra Melayu<br />
Abad ke-7 – 17. Jakarta: INIS.<br />
Browne, E. G. A. (1976). A Literary History of Persia. Vol. III. Cambridge:<br />
Cambridge University Press.<br />
Happold, F. C. (1981). Mysticism: A Study and Anthology. Harmondsworth,<br />
Middlesex, Englan: Penguin Books.<br />
Edi Sedyawati dkk (2001). Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Umum. Jakarta: Pusat<br />
Bahasa dan Balai Pustaka<br />
Ismail Hamid (1982). Kesusasteraan Melayu Lama Dari Warisan Peradaban Islam.<br />
Petaling Jaya: Fajar Bakti Sdn Bhd.<br />
Jacobi, J. (1962). The Psychology of Jung. London: Routledge &amp; Kegan Paul.<br />
Johns, A. H. (1967). “From Buddhism to Islam: An Interpretation of Javanese<br />
Literature of Transition”. In Comparative Studies in Society and History. Vol. IX, No. 1, 1957 (243-53).<br />
Jung, C. G. (1956). Two Essays on Analytical Psychology. New York: Meridian<br />
Books.<br />
Koentjaraningrat (1984). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.<br />
Md. Salleh Yaapar (2002). Ziarah ke Timur. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan<br />
Pustaka.<br />
Mir Valiuddin (1980). Contemplative Discipline in Sufism. Ed. Gulshan Khakee.<br />
London &amp; The Hague: East-West Publications.<br />
Pigeaud, Th. G. (1967). Literature of Java: Catalogue Raisonne of Javanese<br />
Manuscripts in the Library of Univeristy of Leiden and Other Public Collections<br />
in the Netherlands. Vol. I. Synopsis of Javanese Literature<br />
900-1900 A. D. The Hague: Martinus Nijhoff.<br />
Poerbatjaraka, R. M. (1940). “Dewa Roetji”. Djawa, 20ste, Jaargang, No. 1. (6-55)<br />
————————— (1957) Kapustakan Jawi. Jakarta: Djambatan.<br />
Ricklefs, M. C. (1993). War, Culture and Economy in Java 1677-1726: Asian and<br />
Europeans Imperialism in the Eearly Kartasura Period. Sydney: Allen &amp; Unwin.<br />
Seno Sastroamidjojo ( (1962). Tjeritera Dewa Rutji dengan arti Filsafatnya. Jakarta:<br />
P. T. Kinta.<br />
Schimmel, Annemarie (1983). And Muhammad is His Messenger: The Veneration of<br />
the Prophet in Islamic Piety. Chapel Hill and London: The University of North Carolina Press.<br />
Simuh (1988). Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita: Suatu Studi<br />
terhadap Serat Wirid Hidayat Jati. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.<br />
Siswoharsojo, Ki ( (1953). Wedaran Serat Dewaroetji. Yogyakarta: 1953.<br />
Soebardi, S. (1975). The Book of Cabolek. The Hague: Martinus Nijhoff.<br />
Stevens, Anthony (1982). Archetype: A Natural History of th Self. London:<br />
Routledge and Kegan Paul.<br />
Sumaryono E (1993). Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.<br />
Tanojo, R. (1979). Bima Suci. Jakarta: PN. Balai Pustaka.<br />
Vreede A. C. (1892). Catalogus van de Javaansche en Madoeresche Handschriften der<br />
Leidsche Universiteits Bibliotheek. Leiden: KITLV.<br />
Wediodiningrat, R. T. “Fragmenten uit het Boek Dewa Roetji”. Djawa 20, 2. 1940<br />
(123-30).<br />
Zoetmulder, P. J. (1935). Pantheisme en Monisme in de Javaansche Soeloek-Literatuur.<br />
Nijmegen.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kawruhjawi.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kawruhjawi.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawruhjawi.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawruhjawi.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawruhjawi.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawruhjawi.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawruhjawi.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawruhjawi.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawruhjawi.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawruhjawi.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawruhjawi.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawruhjawi.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawruhjawi.wordpress.com&blog=2202040&post=44&subd=kawruhjawi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/05/09/islam-dalam-filsafat-mistik-jawa-analisis-dewa-ruci-%e2%80%9cserat-cabolek%e2%80%9d-drabdul-hadi-w-m/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/nurussadad-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">nurussadad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Godril</title>
		<link>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/04/22/godril/</link>
		<comments>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/04/22/godril/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 10:55:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mtamim</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[alam]]></category>

		<category><![CDATA[budaya jawa]]></category>

		<category><![CDATA[tembang]]></category>

		<category><![CDATA[godril]]></category>

		<category><![CDATA[munggur]]></category>

		<category><![CDATA[trembesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawruhjawi.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Jaman kula alit rumiyin wonten salah satunggaling cemilan ingkang populer kangge lare-lare ingkang sakmenika kadosipun sampun awis, inggih menika godril. Godril menika wiji saking woh trembesi utawi munggur (samanea saman). Sanadyan namung camilan sederhana, kangge nedi godril menika nggadahi perjuangan ingkang awrat, saking pados dumugi nedinipun piyambak.
Woh godril menika wujudipun lonjoran item kanthi wit ingkang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/15/Samanea-saman.jpg/240px-Samanea-saman.jpg" alt="" width="240" height="172" />Jaman kula alit rumiyin wonten salah satunggaling cemilan ingkang populer kangge lare-lare ingkang sakmenika kadosipun sampun awis, inggih menika godril. Godril menika wiji saking woh trembesi utawi munggur (samanea saman). Sanadyan namung camilan sederhana, kangge nedi godril menika nggadahi perjuangan ingkang awrat, saking pados dumugi nedinipun piyambak.</p>
<p>Woh godril menika wujudipun lonjoran item kanthi wit ingkang inggil. Kembangipun warni gradasi pethak lan abrit ingkang peni. Woh godril saged gogrok saking wit menawi sampun tuwa lan biasanipun gogrog menawi wonten angin. Menawi musim godril biasanipun lare-lare (kula lan rencang-rencang) nengga wonten ngandap wit trembesi menika, nengga angin ingkang nggogrogaken woh godril.</p>
<p>Kadangkala lare-lare nembangaken tetembangan kangge nimbali angin (sayang kula sampun kesupen tembangipun <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /> ). Menawi wonten angin lan woh godril sami dawah, rencang-rencang sami kompetisi rebutan woh menika. Sanadyan sami rebutan hananging mboten ngantos kedadosan wonten cecongkrahan. Wonten ingkang angsal kathah lan sekedik sampun biasa, rejekinipun sampun piyambak-piyambak.</p>
<p><img src="http://farm4.static.flickr.com/3193/2433888664_7ec44ae1a0.jpg?v=0" alt="" width="500" height="274" /></p>
<p>Woh godril menika dipun pepe rumiyin supados garing, amargi menawi dereng garing radi awrat anggenipun mecah utawi nggepuk kangge mendet wijinipun, amargi dagingipun lengket. Menawi sampun garing woh godril digepuk ngangge selo/watu (biasanipun watu kali). Wiji godril dipendet lan dipepe malih supados wijinipun garing. Menawi wiji sampun garing lajeng digoreng gongso utawi goreng tanpa minyak. Amargi nggoreng menika radi awrat kangge lare, biasanipun dipun gorengaken kaliyan ibu/emakipun.</p>
<p>Godril ingkang sampun mateng lajeng saged dipun beta menawi sekolah utawi menawi dolanan. Asring godril menika dipun nedi sesarengan kanthi guyub rukun.<br />
Mboten kados kwaci ingkang kulitipun tipis, wiji godril menika nggadahi kulit ingkang kandel lan atos, kedah digeged kanthi kiyat supados saged pecah. Godril gadah raos ingkang khas, sahingga mboten rugi perjuangan kangge angsal cemilan menika. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img src="http://farm4.static.flickr.com/3034/2433072735_cd52cdf310.jpg?v=0" alt="" width="500" height="297" /></p>
<p>Hananging wonten salah satunggalipiun efek samping nedi godril menika, ingging menika mambetipun &#8220;gas buang&#8221; hasil pengolahan godril menika sanget spektakuler&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> ngungkuli mambetipun jengkol sahinggo sering kangge goyon lan garap-garapan&#8230;</p>
<p>Godril, cemilan sederhana menika jebul nggadahi filosofi ingkang lebet: kangge kepenak kedah sagah rekaos rumiyin. Filosofi sanesipun inggih berlatih kompetitif lan sportif (nalika pados gogrogan godril), seni (tetembangan nimbali angin) guyub, kepedulian marang putra (ibu ingkang nggongso-ngaken kangge putrane), humor, lan sanes-sanesipun.<br />
Wonten jaman sak menika godril sampun kageser kaliyan makanan-makanan instan moderen.</p>
<p>Gambar dipendhet saking http://ctahr.hawaii.edu, http://en.wikipedia.org/wiki/Samanea_saman</p>
<p>Update:<br />
Rerembagan kalihan rencang, jebul rencang menika taksih kemutan sekedik tembang kangge ngundang angin menika. Kirang luwih mekaten:<br />
<em>Pe, cempe, undangno barat gede<br />
tak upahi duduh tape..</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kawruhjawi.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kawruhjawi.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawruhjawi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawruhjawi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawruhjawi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawruhjawi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawruhjawi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawruhjawi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawruhjawi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawruhjawi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawruhjawi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawruhjawi.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawruhjawi.wordpress.com&blog=2202040&post=43&subd=kawruhjawi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/04/22/godril/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/mtamim-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mtamim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/15/Samanea-saman.jpg/240px-Samanea-saman.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3193/2433888664_7ec44ae1a0.jpg?v=0" medium="image" />

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3034/2433072735_cd52cdf310.jpg?v=0" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Garengpung</title>
		<link>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/02/26/garengpung/</link>
		<comments>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/02/26/garengpung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2008 10:18:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mtamim</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[alam]]></category>

		<category><![CDATA[sanes]]></category>

		<category><![CDATA[garengpung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/02/26/garengpung/</guid>
		<description><![CDATA[
Menawi wonten dusun-dusun utawi daerah ingkang taksih kathah wit-witanipun, kita asring mireng salah sawijining kewan inkang gadhah suanten ingkang unik inggih menika garengpung. Jaman rumiyin, garengpung dados pratanda mangsa ketiga. Aran garengpung menika ugi mawarni-warni, wonten ingkang mastani gareng, cenggeret, tonggeret, cicada, lan sakpanunggalanipun. Spesies garengpung wonten tiga, Magicicada septendecim, Magicicada cassini, lan Magicicada septendecula. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://www.saltthesandbox.org/cicada_hunt/5-27-CicadaClusterLrg.jpg" height="423" width="480" /></p>
<p>Menawi wonten dusun-dusun utawi daerah ingkang taksih kathah wit-witanipun, kita asring mireng salah sawijining kewan inkang gadhah suanten ingkang unik inggih menika garengpung. Jaman rumiyin, garengpung dados pratanda mangsa ketiga. Aran garengpung menika ugi mawarni-warni, wonten ingkang mastani gareng, cenggeret, tonggeret, cicada, lan sakpanunggalanipun. Spesies garengpung wonten tiga, <i>Magicicada septendecim, Magicicada cassini, </i>lan <i>Magicicada septendecula</i>. Kula boten mangertos mbok menawi istilah garengpung menika <strike>sakjanipun</strike> sejatosipun namung salah satunggaling spesies cicada punapa mboten.</p>
<p>Nalika kula pados informasi wonten internet, jebul garengpung menika boten wonten tanah Jawi kemawon. Informasi wonten <a href="http://www.fotografer.net/isi/forum/topik.php?id=97283&amp;p=3" target="_blank">mriki </a>mratelakaken menawi garengpung jebul ingging wonten ing tlatah Amerika. Hananging wonten mrika garengpung nggadahi siklus ingkang unik inggih menika medal saking siti namung 17 tahun sepindah kanthi massal. Wonten blog <a href="http://kampungantenan.blogspot.com/2008/02/permanent-head-damage.html" target="_blank">mriki </a>mratelakaken bilih garengpung jebul inggih dados objek kangge penelitian S3 dening salah satunggaling peneliti.</p>
<p>Wonten panggenan kula sakmenika kadosipun sampun jarang mireng suanten garengpung.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kawruhjawi.wordpress.com/42/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kawruhjawi.wordpress.com/42/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawruhjawi.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawruhjawi.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawruhjawi.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawruhjawi.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawruhjawi.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawruhjawi.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawruhjawi.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawruhjawi.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawruhjawi.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawruhjawi.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawruhjawi.wordpress.com&blog=2202040&post=42&subd=kawruhjawi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/02/26/garengpung/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/mtamim-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mtamim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.saltthesandbox.org/cicada_hunt/5-27-CicadaClusterLrg.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Perangkat Desa ten Kabudayaan Jawi&#8230;</title>
		<link>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/29/perangkat-desa-ten-kabudayaan-jawi/</link>
		<comments>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/29/perangkat-desa-ten-kabudayaan-jawi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jan 2008 02:34:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurussadad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[budaya jawa]]></category>

		<category><![CDATA[perangkat desa jawa tradisional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawruhjawi.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Ten desa kawula, Desa Pucangan, wonten namine perangkat Dusun inang sakniki tesih wonten asmanipun namung fungsine sampun malih&#8230;
Perangkatipun yoiku :

Polo Uceng : tugasipun ngurusi irigasi dusun
Kamituwo : niki kepala dusun
Modin : tugasipun ngurusi masalah kerohanian dusun
Bayan : tugasipun wenehi pengumuman dateng warga, nek wonten acara desa
Jogoboyo : niki ngurusi keamanan desa, biasane paling sakti..

Nanging niku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ten desa kawula, Desa Pucangan, wonten namine perangkat Dusun inang sakniki tesih wonten asmanipun namung fungsine sampun malih&#8230;</p>
<p>Perangkatipun yoiku :</p>
<ul>
<li>Polo Uceng : tugasipun ngurusi irigasi dusun</li>
<li>Kamituwo : niki kepala dusun</li>
<li>Modin : tugasipun ngurusi masalah kerohanian dusun</li>
<li>Bayan : tugasipun wenehi pengumuman dateng warga, nek wonten acara desa</li>
<li>Jogoboyo : niki ngurusi keamanan desa, biasane paling sakti..</li>
</ul>
<p>Nanging niku ten desa kulo sing tesih wonten, sinten ingkang purun nambahi&#8230;?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kawruhjawi.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kawruhjawi.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawruhjawi.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawruhjawi.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawruhjawi.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawruhjawi.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawruhjawi.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawruhjawi.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawruhjawi.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawruhjawi.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawruhjawi.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawruhjawi.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawruhjawi.wordpress.com&blog=2202040&post=40&subd=kawruhjawi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/29/perangkat-desa-ten-kabudayaan-jawi/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/nurussadad-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">nurussadad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Werdining Katresnan..</title>
		<link>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/14/werdining-katresnan/</link>
		<comments>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/14/werdining-katresnan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2008 09:32:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusthatitik</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sanes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/14/werdining-katresnan/</guid>
		<description><![CDATA[Werdining katresnan punika;
rerakit lumampahing mangsa kang ngukir
lembaring dalu rina, kang sinerat dening astaNya.
Werdining katresnan punika;
reroncening trenyuh kabagyan,
kang medal saking panangis lan gumuyu,
trus rumesep ing telenging kalbu.
Werdining katresnan punika;
angaksami tumrap sadaya kalepatan,
nampi samukawis klentu pakarti tuwin sisiping pitembung.
Werdining katresnan punika;
sabar sareh ugi nampi samukawis panandhang
lamun pedhut pacoban hanelahi, katresnan kinarya pepadhang.
Werdining katresnan punika;
rak ugi sami pitados [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Werdining katresnan punika;</p>
<p>rerakit lumampahing mangsa kang ngukir</p>
<p>lembaring dalu rina, kang sinerat dening astaNya.</p>
<p>Werdining katresnan punika;</p>
<p>reroncening trenyuh kabagyan,</p>
<p>kang medal saking panangis lan gumuyu,</p>
<p>trus rumesep ing telenging kalbu.</p>
<p>Werdining katresnan punika;</p>
<p>angaksami tumrap sadaya kalepatan,</p>
<p>nampi samukawis klentu pakarti tuwin sisiping pitembung.</p>
<p>Werdining katresnan punika;</p>
<p>sabar sareh ugi nampi samukawis panandhang</p>
<p>lamun pedhut pacoban hanelahi, katresnan kinarya pepadhang.</p>
<p>Werdining katresnan punika;</p>
<p>rak ugi sami pitados lan manungkung jroning pangajeng-ajeng;</p>
<p>awit katresnan salaminipun langgeng.</p>
<p>Werdining katresnan punika;</p>
<p>peparingan Gusti Allah</p>
<p>katresnan kang mekar ing telenging manah,</p>
<p>konjuka ing Ngarsa Pepadhanipun&#8230;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kawruhjawi.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kawruhjawi.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawruhjawi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawruhjawi.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawruhjawi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawruhjawi.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawruhjawi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawruhjawi.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawruhjawi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawruhjawi.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawruhjawi.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawruhjawi.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawruhjawi.wordpress.com&blog=2202040&post=39&subd=kawruhjawi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/14/werdining-katresnan/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/yusthatitik-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">yusthatitik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Telekomunikasi Tradisonal</title>
		<link>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/09/telekomunikasi-tradisonal/</link>
		<comments>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/09/telekomunikasi-tradisonal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jan 2008 03:27:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mtamim</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[budaya jawa]]></category>

		<category><![CDATA[mitologi]]></category>

		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/09/telekomunikasi-tradisonal/</guid>
		<description><![CDATA[Wonten ing jaman teknologi moderen menika, komunikasi sampun langkung gampil menawi dipun bandingaken jaman rumiyin.Sak menika kanthi telepon seluler utawi HP lan internet, para kadang saget sami guneman utawi kirim pesen khanthi cepet, gampil lan mirah. Kados blog Kawruhjawi menika saged ugi dipun waos ngagem HP. Kula asring maos ngangge Browser Opera Mini (menika gambar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Wonten ing jaman teknologi moderen menika, komunikasi sampun langkung gampil menawi dipun bandingaken jaman rumiyin.Sak menika kanthi telepon seluler utawi HP lan internet, para kadang saget sami guneman utawi kirim pesen khanthi cepet, gampil lan mirah. Kados blog Kawruhjawi menika saged ugi dipun waos ngagem HP. Kula asring maos ngangge Browser Opera Mini (menika gambar tampilan Kawruhjawi mawi HP).</p>
<p><a href="http://kawruhjawi.files.wordpress.com/2008/01/kawruhjawi2.jpg" title="kawruhjawi2.jpg"><img src="http://kawruhjawi.files.wordpress.com/2008/01/kawruhjawi2.jpg" alt="kawruhjawi2.jpg" /></a></p>
<p>Sinambetan babagan telekomunikasi, wonten saben kabudayan sejatosipun sampun wonten ugi sarana kangge telekomunikasi tradisional. Raja Sulaiman nate ngginakaken manuk Bul-bul kangge mangertosi kahanan negri Saba. Tiyang-tiyang Indian ngginakaken keluk (asap) kanthi kode-kode ingkang saged dipun waos saking tebih. Masyarakat Jawa inggih gadhah sarana telekomunikasi tradisional inggih menika kenthongan. Kenthongan saged dipun ginakaken kangge pratanda menawi wonten kahanan tertentu. Kahanan ingkang informasinipun asring dipun sebaraken kanthi kode-kode kenthongan biasanipun menawi kahanan bahaya; <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/18/0101.htm" target="_blank">lindhu </a>, <a href="http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=15606&amp;Itemid=1" target="_blank">banjir</a> ,<a href="http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0601/13/dar7.htm" target="_blank"> siti longsor</a>, <a href="http://www.indomedia.com/bernas/022001/17/UTAMA/17sep1.htm" target="_blank">gunung mbledos</a>, lan sakpanunggalanipun. Menawi kahanan bahaya kados menika kenthongan ditabuh kanthi terus-terusan lan irama cepet dipun arani &#8216;titir&#8217;. Jaman rumiyin, gegandengan kaliyan mitos, kahanan kados grahana ugi dipun mangertosi dados kahanan bahaya sahingga menawi wonten grahana (srengenge nopo bulan) tiyang-tiyang sami nabuh kenthongan titir ugi supados raksasa ingkang &#8216;mangan&#8217; bulan utawi srengenge saged nglepeh malih supados kahanan mboten peteng ndedet.<br />
Kajawi kahanan bahaya, kenthongan dipun ginakaken ugi kangge pratanda misalipun kangge kempalan kerjabakti utawi kempal sanesipun. Sanesipun, kenthongan ugi kangge pratanda ibadah sholat wonten ing masjid.</p>
<p>Jaman sak menika, telekomunikasi tradisional sampun awis dipun ginakaken, sinaoso wonten kahanan tertentu taksih wonten manfaatipun, kadosto menawi listrik pejah utawi nalika mboten wonten alat elektronik.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kawruhjawi.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kawruhjawi.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawruhjawi.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawruhjawi.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawruhjawi.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawruhjawi.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawruhjawi.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawruhjawi.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawruhjawi.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawruhjawi.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawruhjawi.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawruhjawi.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawruhjawi.wordpress.com&blog=2202040&post=37&subd=kawruhjawi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/09/telekomunikasi-tradisonal/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/mtamim-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mtamim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kawruhjawi.files.wordpress.com/2008/01/kawruhjawi2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kawruhjawi2.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ngimpi=pratanda?</title>
		<link>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/03/ngimpipratanda/</link>
		<comments>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/03/ngimpipratanda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 05:43:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusthatitik</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sanes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/03/ngimpipratanda/</guid>
		<description><![CDATA[Wau dalu nalika tilem kulo ngimpi rencang kulo emah-emah. Kadosipun sewengi niku kulo namung ngimpi bab punika. Criosipun dangu lan nrenyuhi.
Wau enjang naliko tangi kulo seg ngertosi bilih kala wau namung ngimpi. Kulo lanjeng kirim pesen cekak mawi hp, crios dateng rencang kulo ingkang kulo impeaken. Rencang kulo lajeng mbales lan crios bilih wonten jawi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Wau dalu nalika tilem kulo ngimpi rencang kulo emah-emah. Kadosipun sewengi niku kulo namung ngimpi bab punika. Criosipun dangu lan nrenyuhi.</p>
<p>Wau enjang naliko tangi kulo seg ngertosi bilih kala wau namung ngimpi. Kulo lanjeng kirim pesen cekak mawi hp, crios dateng rencang kulo ingkang kulo impeaken. Rencang kulo lajeng mbales lan crios bilih wonten jawi ngimpi emah-emah niku pratanda mboten apik. Radi deg-degan sakwetawis, nanging kulo lajeng kemutan bilih Gusti maringi pratanda mboten namung sepindah.</p>
<p><span id="more-36"></span>Nalika jaman pari nabi, nabi Yusuf angsal pratanda saking Gusti mawi ngimpi. Ngimpi menawi nabi Yusuf lan sedulur-seduluripun ngiket gandum.  Gandum kagunganipun Yusuf ngadeg jejeg, lan gandumipun sedulur-sedulur sami sujud nyembah gandum Yusuf. Ngimpi ingkang kaping kalih  ketingal srengenge, wulan, lan 11 bintang sujud nyembah Yusuf ngantos ngambung lemah. Ngimpinipun nabi Yusuf punika nggadahi teges ingkang sami. Ngimpi nabi Yusuf punika pratanda/sasmita saking Gusti. Gusti maringi ngimpi ping kalih supados nabi Yusuf mangertosi bilih punika pratanda saking Gusti.</p>
<p>Kanthi lampah ingkang rekaos lan wekdal ingkang dangu, impenipun nabi Yusuf dados kasunyatan. Nabi Yusuf dados raja wonten ing negeri Mesir. Punika inggih jalaran nabi Yusuf saget tanggap ing sasmita ingkang Gusti paringaken dateng raja Firaun. Kala semanten raja Firaun ngimpi wonten 7 sapi ingkang lemu-lemu taksih nggayem suket wonten pinggir kali Nil. Lajeng wonten 7 sapi ingkang kuru-kuru medal saking kali Nil. Sapi ingkang kuru punika mangan sapi ingkang lemu-lemu. Sakbibar ngimpi punika raja Firaun wungu. Nalika sare malih, raja ngimpi bilih wonten 7 gandum ingkang sae, lajeng tuwuh ugi gandum ingkang kuru-kurulan gabug. Gandum ingkang gabug mangan gandum ingkang sae ngantos telas. Yusuf kanthi pitulungan Gusti saget maringi teges dateng impenipun raja Firaun. Impen raja punika pratanda saking Gusti bilih badhe wonten kemakmuran dangunipun 7 taun. Nanging sakbibar niku badhe wonten kelaparan dangunipun 7 taun.</p>
<p>Kanthi bab niku nabi Yusuf diangkat dados panguwasa wonten ing Mesir. Pratanda ingkang diparingaken Gusti miyos impen raja Firaun dados kasunyatan. Lajeng impen nabi Yusuf ugi dados kasunyatan. Bapak, Ibu, lan sedulur-seduluripun sujud nyembah Yusuf nalika kelaparan dipun raosaken wonten negrinipun.</p>
<p>Punika impen ingkang dados pratanda. Nanging nopo saben impen punika pratanda? Nopo namung kembange sare? Wonten ingkang ngendika bilih ngimpi niku soal kejiwaan.  Nopo ingkang kita pikir lajeng mendep wonten ing &#8216;alam bawah sadar&#8217; kita, mbenjang nopo kapan, &#8216;alam bawah sadar&#8217; niku badhe njedul lewat ngimpi.</p>
<p>Bab impen kulo wau dalu, nopo niku pratanda nopo namung &#8216;alam bawah sadar&#8217; ingkang njedul kulo dereng mangertosi. Menawi pratanda, mugi pratanda ingkang becik. Rencang kulo punika mugi cepet emah-emah kaliyan tiyang ingkang dipun tresnani.. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kawruhjawi.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kawruhjawi.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawruhjawi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawruhjawi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawruhjawi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawruhjawi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawruhjawi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawruhjawi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawruhjawi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawruhjawi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawruhjawi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawruhjawi.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawruhjawi.wordpress.com&blog=2202040&post=36&subd=kawruhjawi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/03/ngimpipratanda/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/yusthatitik-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">yusthatitik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ambal Warsa Raja Thailand</title>
		<link>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/02/ambal-warsa-raja-thailand/</link>
		<comments>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/02/ambal-warsa-raja-thailand/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jan 2008 03:10:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mtamim</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<category><![CDATA[donya]]></category>

		<category><![CDATA[sanes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/02/ambal-warsa-raja-thailand/</guid>
		<description><![CDATA[Menawi para miyarsa tindak dateng Thailand akhir tahun 2007 menika, panjenengan bade mirsani kathah poster, baliho, lan gambar-gambar Raja Thailand Bhumibol Adulyadej wonten pundi-pundi papan. Tanggal 5 Desember 2007 menika dados dinten ambal warsa-nipun Raja Bhumibol ingkang kaping 80. Dinten kelahiran Raja Bhumibol menika dipun pengeti kanthi ageng wonten sak ngindenging negri Thailand. Rakyat Thailand [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Menawi para miyarsa tindak dateng Thailand akhir tahun 2007 menika, panjenengan bade mirsani kathah poster, baliho, lan gambar-gambar Raja Thailand Bhumibol Adulyadej wonten pundi-pundi papan. Tanggal 5 Desember 2007 menika dados dinten ambal warsa-nipun Raja Bhumibol ingkang kaping 80. Dinten kelahiran Raja Bhumibol menika dipun pengeti kanthi ageng wonten sak ngindenging negri Thailand. Rakyat Thailand sami tresna dumatheng rajanipun sinaoso wonten jaman moderen menika kekuasaanipun raja mboten kados jaman rumiyin. Kados Thailand menika pemerintahan dipun pimpin perdana menteri amargi Thailand tumut sistem monarki konstitusional. Sinaoso mekaten, posisi raja tetep dipun hormati kaliyan rakyat, lan rakyat malah langkung tresna dhumateng raja saking pemerintahipun. Kahanan menika sejatosipun mboten aneh amargi raja inggih sanget migatosaken kaliyan rakyat.</p>
<p>Wonten pesawat Thai Airways kula maos artikel-artikel majalah sesambetan kaliyan babakan menika. Saking waosan menika kula radi mangertos kados pundhi larah-larahipun rakyat Thailan menika ngantos mekaten setya-tuhu lan tresna dhumateng rajanipun.</p>
<p>Raja Bhumibol Adulyadej (Raja Rama IX) saking Dinasti Chakri lair tanggal 5 Desember 1927 lan jumeneng ratu wonten ing tahun 9 Juni 1946. Raja Bhumibol menika salah satunggaling raja ingkang cerak kalian rakyat, mangertosi kahananipun rakyat lan kanthi tulus pados dalan kangge ngangkat drajatipun rakyat. Wonten tahun 1950an lan 1960an, Raja Bhumibol asring tindak dateng pedalaman, minggah mudhun gunung nitih motor trail. Kanthi sabar mirengaken awratipun kahanan gesang para rakyat. Salah satunggaling daerah menika inggih daerah perbatasan segitiga emas narkotika, ingkang terpencil lan taksih rawan. Kanthi pengalamainpun nalika enem wonten Lausanne, Swiss, sinau babakan pertanian lan seni wonten mrika, Raja Bhumibol lajeng ngawontenaken proyek-proyek kangge ngentasaken rakyat saking kemiskinan.</p>
<p>Watawis 4000 proyek kerajaan sampun mlampah ingkang sesambetan kaliyan irigasi, panggulowenthah sumber toya, konservasi alas, perikanan, penaggulangan erosi, teknologi pertanian, reboisasi, pengembangan lahan, pengembangan komunitas pedesaan, pendidikan, transportasi, penanggulangan banjir lan lingkungan hidup. Ngantos sak menika, upaya menika sekedik mboko sekedik ngatingalaken kasil ingkang mbungahaken.<br />
Raja Bhumibol nggadahi hobi mireng musik jazz, ugi hobi fotografi lan atlet olahraga layar. Raja Bhumibol nate meraih medali emas wonten SEA Games 1967.<br />
Katresnanipun rakyat Thailand saged tuwuh ingging jalaran saking tresna raja-nipun dateng rakyat, kados sumpahipun nalika jumeneng ingkang badhe makarya kangge kabahagianipun rakyat. Raja Bhumibol kacatet dados raja ingkang paling dangu jumeneng wonten sak ngindenging donya.<br />
Menawi wonten Indonesia, kita saged mirsani kahanan ingkang kirang luwih sami, sinaoso wonten skala ingkang langkung alit, inggih katresnanipun rakyat Jogja dhumateng Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwana IX lan X. Rakyat Jogja sami ngraosaken jasanipun Sultan ingkang kaping IX nalika penjajahan Walanda lan jaman kamardikan, lan jasanipun Sultan Kaping X nalika seg jaman ontran-ontran reformasi ngantos sak menika.</p>
<p>Sekedik seratan menika nggambaraken sinaoso sistem politik monarki lan kerajaan sampun mboten selaras wonten gesang jaman moderen, nanging kanthi filosofi katresnan raja lan rakyat, kabukti taksih saged gadhah peran ingkang mboten sekedik dhumateng kemakmuran lan kabahagyan masyarakat kathah.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kawruhjawi.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kawruhjawi.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawruhjawi.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawruhjawi.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawruhjawi.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawruhjawi.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawruhjawi.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawruhjawi.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawruhjawi.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawruhjawi.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawruhjawi.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawruhjawi.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawruhjawi.wordpress.com&blog=2202040&post=34&subd=kawruhjawi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawruhjawi.wordpress.com/2008/01/02/ambal-warsa-raja-thailand/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/mtamim-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mtamim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Katresnan Sejati&#8230;</title>
		<link>http://kawruhjawi.wordpress.com/2007/12/28/katresnan-sejati/</link>
		<comments>http://kawruhjawi.wordpress.com/2007/12/28/katresnan-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 10:13:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusthatitik</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sanes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawruhjawi.wordpress.com/2007/12/28/katresnan-sejati/</guid>
		<description><![CDATA[
Dinten Ibu dipengeti saben tanggal 22 Desember. Nalika wonten rerembag bab punika kaliyan rencang, kulo kemutan ibu ingkang sampun kondur marak sowan wonten ngarsanipun Gusti. Inggih linuber lan jembar tresnanipun ibu dateng putra-putranipun. Inggih tresno ingkang sejati ingkang diparingaken ibu dateng bapak, sigaraning nyowo. Tresno punika ingkang ndadosaken gesang tansah ayem tentrem, susah, seneng saget [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="post-content">
<div class="snap_preview">Dinten Ibu dipengeti saben tanggal 22 Desember. Nalika wonten rerembag bab punika kaliyan rencang, kulo kemutan ibu ingkang sampun kondur marak sowan wonten ngarsanipun Gusti. Inggih linuber lan jembar tresnanipun ibu dateng putra-putranipun. Inggih tresno ingkang sejati ingkang diparingaken ibu dateng bapak, sigaraning nyowo. Tresno punika ingkang ndadosaken gesang tansah ayem tentrem, susah, seneng saget dipun raosaken kanthi ayem.</p>
<p>Ibu, ingkang sampun ngandut kulo, ingkang ambabaraken kulo kanthi rekaos, ingkang sampun nglantaraken kulo ngantos dumugi ageng, mandiri kados sakmeniko. Ibu ingkang tresno kalian putra-putranipun ngagem caranipun piyambak. Ibu sanes tiyang ingkang kalem, sabar, utawi lembut. Ibu kulo punika tiyang ingkang galak, sregep, nanging alit atinipun. Dados asring menawi wonten ingkang nrenyuhaken ibu kulo namung saget nangis. Ibu ugi tiyang ingkang tertutup. Arang crios kaliyan putra-putra nopo ingkang dados  penggalihipun, namung dateng bapak ibu saget crios.</p>
<p>Ibu tasih alit nalika emah-emah kaliyan bapak. Seg 17 th kala semanten. Gadhah garwa bapak punika kabegjan piyambak kagem ibu. Tresno ingkang mboten dimangertosi kaliyan ibu, ibu caosaken dateng bapak. Nopo ingkang bapak paringi, ibu tampi. Nopo ingkang bapak suwun ibu caosi. Sinten ingkang ngerstosi nopo ingkang dados dalane gesang. Sinten ingkang mangertosi menawi ing tengahing bungah, bapak kedah tindak ninggalaken ibu piyambakan momong 3 lare ingkang tasih alit-alit. Nanging kolo semanten ibu tansah sabar nenggo bapak kondur. Kulo nate tanglet kaliyan ibu: ibu kenging nopo mboten menikah malih wekdal niku? Ibu namung ngendiko: “Ibu eman lan melas karo bapakmu”. Punika ingkang dados ungkapaning raos tresno ibu dateng bapak. Ibu ngendiko mekaten nalika ibu gerah lan sampun mboten saget mlampah. Crios kalih mbrebes mili amargi kemutan wekdal semanten.</p>
<p>Sakbibar bapak kondur, ibu lan bapak milai urip saking nol. Dodos bakul titih (jenang jagung). Menawi sonten mbebek jagung ngagem lumpang lan alu. Mbenjang enjang dipun ideraken. Namung cekap kagem sedinten. Mekaten teras saben dinten. Ngantos dumugi wanci bapak saget nderek buruh bangunan lan ibu nderek njait wonten pecinan. Kolo semanten ekonomi sampun radi lumayan. Saben sabtu bapak saget numbasaken susu kagem lare-lare. Lajeng bapak diparingi sabin kaliyan simbah. Bapak mboten gadhah pengalaman ngolah sabin. Ibu ingkang lare petani ingkang nderek ngolah sabin. Sekedik-sekedik bapak saget. Saben enjing bapak tindak sabin. Mangke jam 9 bapak kondur sarapan. Ibu asring nderek dateng sabin. Nderek matun, tandur, utawi derep. Malah asring nderek derep wonten sabin tiyang lan angsal bawon gabah saknyangking. Punika ingkang dados keseharian bapak lan ibu. Mangke menawi panen, bapak ingkang mbeto wonten peken diboncengaken wonten pit, ibu nyurung saking wingking lan wonten peken dipun sade kaliyan ibu. Menawi panenan polowijo, subuh-subuh bapak lan ibu sampun tindak peken. Saking mriku bapak lan ibu saget nyekolahaken 5 putra ngantos SLTA lan 1 ngantos sarjana (inggih kulo piyambak). Bapak asring ngendiko: “Bapak namung biso nyangoni kepinteran, dene bondo goleko dewe-dewe. Bapak mung biso nyekolahke nganti SLTA, dene arep sarjana sekolaho dewe.” Sakmeniko sampun 3 ingkang sarjana, 1 D3, lan 1 taksih nglajengaken S2.</p>
<p>Ibu gadhah sakit hipertensi. Ngunjuk obat pinten-pinten taun. Sampun pijet wonten pundi-pundi, berobat nggih wonten dokter spesialis saraf. Ibu nate angsal serangan stroke sepindah, nanging saget mantun. Lajeng serangan stroke ingkang kaping kalih njalari ibu lumpuk awak sisih kiwo. Ibu mboten saget mlampah piyambak, mboten saget nopo-nopo piyambak. Bapak ingkang ngrawat ibu kanthi sabar lan gemati. Kadangkolo ibu manja kados lare alit, nanging bapak saget mangertosi sanget bilih ibu punika gerah lan bapak ngladosi ibu kanthi tlaten. Kulo mbrebes mili menawi kemutan. Enjing2 bapak ingkang makpungi ibu, mangke ibu sikat gigi piyambak lan sabunan piyambak, bapak namung nguyur toyanipun. Nggantosi ageman, nyisiri, lsp. Kulo taksih kuliah wonten Jogja kolo semanten. Mbak ingkang wonten dalem sampun budhal nyambut damel nalika ibu wungu. Mangke ibu lenggah wonten ngajeng mriksani kendaraan sliwar-sliwer wonten ratan. Bapak wonten sisihipun nyriosi babagan ingkang ndamel ibu bungah. Kagem semangat gesang, bapak asring ngendiko bilih usia pernikahan bapak lan ibu sampun badhe ngancik 50 tahun utawi kawin emas. Sampun mbayangaken mbenjang menawi kawin emas badhe ngawontenaken syukuran. Nanging dereng ngantos dugi wancinipun, ibu angsal serangan stroke ingkang kaping tigo. Lan ibu opname wonten nggriyo sakit. Sedinten setunggal dalu ibu mboten wungu. Bapak wonten sisihipun ibu. Lare-lare ugi neggo ibu, maringi pandonga lan maringi semangat kagem ibu. Nanging ibu sampun kedah wangsul. Naliko sakaratul maut, bapak nyedak wonten sisihipun ibu lan ngendiko: “Bapak tresno karo siro to Su. Wis 48 tahun bareng-bareng ora tau padu to Su. REkoso bareng, seneng bareng. Saiki bocah-bocah wis podho mentas kabeh. Siro sing dadi ibu wis berhasil. Siro nek arep kondur wis padhang dalane.” Sakbibar bapak ngendiko ngoten, ibu kondur. Punika mboten saget kulo laleaken. Kulo mangertosi sanget bilih bapak lan ibu nggadahi tresno ingkang sejati. Ibu nenggo bapak ngendiko sakderengipun ibu kondur…</p>
<p>Mbenjang tgl 31 desember 2007 inggih kawin emasipun bapak lan ibu. Kulo bangga nggadahi tiyang sepuh kados bapak lan ibu. Kulo kepingin menawi mbenjang bebrayan, kulo nggadahi brayan ingkang tentrem lan tresno ingkang sejati.</p>
<p>Ibu, ibu bintang kagem kulo. Awan lan ndalu ibu wonten madangi kulo. Kulo sinau saking katresnan sejati bapak lan ibu. Sugeng gesang langgeng wonten ing sisihipun Gusti, Ibu…</p></div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kawruhjawi.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kawruhjawi.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawruhjawi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawruhjawi.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawruhjawi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawruhjawi.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawruhjawi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawruhjawi.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawruhjawi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawruhjawi.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawruhjawi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawruhjawi.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawruhjawi.wordpress.com&blog=2202040&post=33&subd=kawruhjawi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawruhjawi.wordpress.com/2007/12/28/katresnan-sejati/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/yusthatitik-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">yusthatitik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tela, Garut, Bili, Uwi</title>
		<link>http://kawruhjawi.wordpress.com/2007/12/27/tela-garut-bili-uwi/</link>
		<comments>http://kawruhjawi.wordpress.com/2007/12/27/tela-garut-bili-uwi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Dec 2007 09:36:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mtamim</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sanes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kawruhjawi.wordpress.com/2007/12/27/tela-garut-bili-uwi/</guid>
		<description><![CDATA[Jaman rumiyin, rikala sumber pangan taksih dereng kados jaman sakmenika, kathah tetuwuhan lan umbi-umbian ingkang dipun dadosaken daharan lan cemilan. Wonten dusun-dusun, jaman rumiyin asring dipun panggihi umbi-umbian kados garut, bili, uwi lan sanes-sanesipun. Jaman kula alit, riyin taksih manggihi umbi-umbian menika, utaminipun dados daharanipun para sepuh. Sak menika umbi-umbian punika sampun jarang. Paling-paling ingkang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Jaman rumiyin, rikala sumber pangan taksih dereng kados jaman sakmenika, kathah tetuwuhan lan umbi-umbian ingkang dipun dadosaken daharan lan cemilan. Wonten dusun-dusun, jaman rumiyin asring dipun panggihi umbi-umbian kados garut, bili, uwi lan sanes-sanesipun. Jaman kula alit, riyin taksih manggihi umbi-umbian menika, utaminipun dados daharanipun para sepuh. Sak menika umbi-umbian punika sampun jarang. Paling-paling ingkang taksih kathah dikonsumsi namung ketela.</p>
<p><a href="http://kawruhjawi.files.wordpress.com/2007/12/caping.jpg" title="caping.jpg"><img src="http://kawruhjawi.files.wordpress.com/2007/12/caping2.jpg" alt="caping2.jpg" /></a></p>
<p>Wonten Hanoi, Vietnam, kula mboten sengaja kepanggih ibu-ibu ingkang sadean woh-wohan lan umbi-umbian lan salah satunggaling ibu menika sadean garut, bili, uwi, lan tela rambat!<br />
Wah, jebul umbi-umbian menika ugi wonten ing Vietnam&#8230;</p>
<p><a href="http://kawruhjawi.files.wordpress.com/2007/12/gembili.jpg" title="gembili.jpg"><img src="http://kawruhjawi.files.wordpress.com/2007/12/gembili.thumbnail.jpg" alt="gembili.jpg" height="185" width="243" /></a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kawruhjawi.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kawruhjawi.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kawruhjawi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kawruhjawi.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kawruhjawi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kawruhjawi.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kawruhjawi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kawruhjawi.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kawruhjawi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kawruhjawi.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kawruhjawi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kawruhjawi.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kawruhjawi.wordpress.com&blog=2202040&post=28&subd=kawruhjawi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kawruhjawi.wordpress.com/2007/12/27/tela-garut-bili-uwi/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/mtamim-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mtamim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kawruhjawi.files.wordpress.com/2007/12/caping2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">caping2.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kawruhjawi.files.wordpress.com/2007/12/gembili.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gembili.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>